Rabu, 04 September 2013

Cara Merancang Sumur Resapan


Sumur resapan merupakan sumur atau lubang pada permukaan tanah yang dibuat untuk menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam tanah. Sumur resapan digali dengan kedalaman di atas muka air tanah. Penerapan sumur resapan ini dalam kehidupan sehari-hari penting artinya. Beberapa fungsi sumur resapan bagi kehidupan manusia adalah sebagai pengendali banjir, melindungi dan memperbaiki (konservasi) air tanah, serta menekan laju erosi.

Bentuk dan jenis bangunan sumur resapan dapat berupa bangunan sumur resapan air yang dibuat segi empat atau silinder dengan kedalaman tertentu dan dasar sumur terletak di atas permukaan air tanah. Berbagai jenis konstruksi sumur resapan adalah:
  1. Sumur tanpa pasangan di dinding sumur, dasar sumur tanpa diisi batu belah maupun ijuk (kosong)
  2. Sumur tanpa pasangan di dinding sumur, dasar sumur diisi dengan batu belah dan ijuk.
  3. Sumur dengan susunan batu bata, batu kali atau bataki di dinding sumur, dasar sumur diisi dengan batu belah dan ijuk atau kosong.
  4. Sumur menggunakan buis beton di dinding sumur
  5. Sumur menggunakan blawong (batu cadas yang dibentuk khusus untuk dinding sumur).
Untuk mengaplikasikan teknik pembuatan sumur resapan maka diperlukan tahap sebagai berikut:
  1. Melakukan analisis curah hujan. Analisa terhadap curah hujan dimaksudkan untuk menghitung intensitas curah hujan maksimum pada perioda ulang tertentu. Dengan mengetahui intensitas curah hujan maksimum maka kapasitas sumur resapan akan dapat dihitung.
  2. Menghitung luas tangkapan hujan. Bersama-sama dengan intensitas curah hujan maksimum dengan periode ulang tertentu akan dapat dihitung besarnya debit aliran.
  3. Menganalisis lapisan tanah/batuan. Lapisan tanah terdiri dari berbagai macam lapisan mulai dari tanah belempung, pasir berlempung dan gravel atau kombinasi dari lapisan tersebut. Sumur resapan akan sangat efisien jika dibuat sampai pada daerah dengan lapisan batuan yang terdiri dari pasir atau gravel.
  4. Pemasangan sumur. Sumur resapan dapat dibangun dengan menggunakan bis beton dengan lapisan porus atau susunan batu bata yang disusun secara teratur.
Beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran atau diameter sumur resapan bergantung pada :
  1. Luas permukaan penutupan, yaitu lahan yang airnya akan ditampung dalam sumur resapan, meliputi luas atap, lapangan parkir dan perkerasan-perkerasan lain.
  2. Karakteristik hujan, meliputi intensitas hujan, lama hujan, selang waktu hujan. Secara umum dapat dikatakan bahwa makin tinggi hujan, makin lama berlangsungnya hujan memerlukan volume sumur resapan yang makin besar. Sementara selang waktu hujan yang besar dapat mengurangi volume sumur yang diperlukan.
  3. Koefisien permeabilitas tanah, yaitu kemampuan tanah dalam melewatkan air per satuan waktu. Tanah berpasir mempunyai koefisien permeabilitas lebih tinggi dibandingkan tanah berlempung.
    Tinggi muka air tanah, pada kondisi muka air tanah yang dalam, sumur resapan perlu dibuat secara besar-besaran karena tanah benar-benar memerlukan pengisian air melalui sumur-sumur resapan. Sebaliknya pada lahan yang muka airnya dangkal, pembuatan sumur resapan kurang efektif, terutama pada daerah pasang surut atau daerah rawa dimana air tanahnya sangat dangkal.

Untuk membangun sumur resapan agar dapat memberikan kontribusi yang optimum diperlukan metoda perhitungan sebagai berikut (Sunjoto,1992) :
  1. Menghitung debit masuk sebagai fungsi karakteristik luas atap bangunan dengan formula rasional (Q=CIA, Q=debit masuk, C=koefisien aliran (jenis atap rumah), I=intensitas hujan, A=luas atap)
  2. Menghitung kedalaman sumur optimum diformulakan sebagai berikut:H = Q/FK
    [1-exp(-(FKT/pR2)]H = Kedalaman air (m)
    Q = Debit masuk (m3/dt)
    F = Faktor geometrik (m)
    K = Permeabilitas tanah (m/dt)
    R = Radius sumur.
    T = Durasi aliran (dt).
  3. Evaluasi jenis fungsi dan pola letak sumur pada jarak saling pengaruh guna menentukan kedalaman terkoreksi dengan menggunakan multi well system.
Sebagai gambaran bagi kita jika akan membangun suatu sumur resapan akan tetapi tidak ingin direpotkan oleh perhitungan yang cukup merepotkan maka dibawah ini kami sajikan tabel volume sumur resapan yang dapat digunakan sebagai bahan acuan.

 

Demikian sedikit ulasan tentang cara merancang volume sumur resapan. Semoga bermanfaat....

Selasa, 03 September 2013

Uniknya Rumah Botol Bandung


Bandung - Rumah botol milik arsitek kondang dari Bandung M. Ridwan Kamil, ST., MUD ini memang patut diacungi jempol. Rumah yang memanfaatkan botol bekas minuman berenergi ini mendapat gelar juara dalam Green Design Award 2009, yang diselenggarakan oleh BCI Asia. Rumah tinggalnya yang memanfaatkan botol bekas minuman berenergi itu ternyata berhasil menyisihkan karya delapan puluh peserta lain dari delapan negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Hongkong, dan Cina. Sungguh benar-benar prestasi anak bangsa yang sangat membanggakan.

Rumah ini menghabiskan 30.000 botol bekas yang berdiri di atas tanah seluas 373 meter persegi, di kawasan Cigadung Selatan, Bandung. Selain ramah lingkungan, rumah botol juga berjasa dalam penghematan energi. Dindingnya yang terbuat dari kaca, membuat sinar matahari lebih mudah masuk sehingga tidak perlu menyalakan lampu pada siang hari.

Bermula dari ide saat melihat pekerja bangunan di rumahnya yang sering minum minuman berenergi, ide memanfaatkan botol bekas pun muncul. “Ide membuat rumah botol itu datang dari pekerja yang menggarap rumah saya. Mereka itu sering mengonsumsi minuman berenergi itu. Botol-botolnya jadi sampah. Dari situ mulai ada ide, apalagi warnanya cokelat, senada dengan warna kayu,” ucap pria kelahiran Bandung, 4 Oktober 1971 itu.

Bentuk rumah botol didesain memiliki dua sayap, yakni sayap depan dan belakang. Di bagian tengah rumah terdapat sebuah taman. Desain ini sengaja untuk bisa menangkap sinar matahari lebih banyak. Akibatnya, cahaya matahari bisa masuk dari tiga sisi rumah.

Bentuk bangunan yang memiliki dua sayap juga membuat udara mengalir bebas. Sehingga rumah tersebut lebih mengandalkan udara alami ketimbang alat pendingin. Udara panas di luar juga tidak membuat gerah di dalam. Radiasi panas terperangkap di dalam botol-botol bekas yang menjadi dinding rumah.

Di bagian luar lantai dua, juga tampak botol-botol itu disusun seperti kubus seukuran 50x50 centimeter. Kubus-kubus dari susunan botol bekas itu diselingi dengan kaca-kaca dengan ukuran serupa. Rumah botol ini beralamat di Jalan Cigadung Selatan, Nomor VII/a28, Kota Bandung.

Setelah nanti resmi dilantik sebagai Wali Kota Bandung periode 2013-2018,rencana rumah botol ini akan dijadikan sebagai galery seni atau galery foto.

Berikut kami sajikan foto keunikan rumah botol milik Ridwan Kamil tersebut :









Demikian sedikit ulasan tentang uniknya rumah botol di Bandung yang menjadi karya anak bangsa yang membanggakan. Semoga ke depan banyak bermunculan bangunan-bangunan yang membanggakan di Indonesia. Semoga menjadi inspirasi bagi arsitek-arsitek muda Indonesia lainnya. Terima kasih.

Senin, 02 September 2013

Kebutuhan Air Pada Bangunan


Air merupakan material yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Dalam merancang sebuah bangunan, kita juga harus memperhatikan akan kebutuhan air pada bangunan tersebut.

Air menurut kebutuhannya dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
  1. Air bersih (dingin atau Panas).
  2. Air kotor (air sisa, air limbah, air hujan dan air limbah khusus).

Adapun syarat-syarat fisik air minum adalah sebagai berikut :
  1. Jernih, bersih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa.
  2. Mempunyai suhu kira-kira 10-20 derajad Celsius.
  3. Memenuhi syarat kesehatan.

Kebutuhan air dalam bangunan artinya air yang dipergunakan baik oleh penghuninya ataupun oleh keperluan-keperluan lain yang ada kaitannya dengan fasilitas bangunan.

Kebutuhan air didasarkan sebagai berikut:
  1. Kebutuhan untuk minum, memasak/dimasak. Untuk keperluan mandi, buang air kecil dan air besar. Untuk mencuci, cuci pakaian, cuci badan, tangan, cuci perlatan dan untuk proses seperti industri.
  2. Kebutuhan yang sifatnya sirkulasi: air panas, water cooling/AC, kolam renang, air mancur taman.
  3. Kebutuhan yang sifatnya tetap: air untuk hidran dan air untuk sprinkler.

Kebutuhan air terhadap bangunan tergantung fungsi kegunaan bangunan dan jumlah penghuninya. Besar kebutuhan air khususnya untuk kebutuhan manusia dihitung rata-rata per orang per hari tergantung dari jenis bangunan yang digunakan untuk kegiatan manusia tersebut. Berikut kami sajikan tabel kebutuhan air pada bangunan berdasarkan jenis-janis bangunannya sebagai berikut :


Demikian sedikit penjelasan tentang kebutuhan air pada sebuah bangunan. Semoga bermanfaat....

Pengertian Indeks Proteksi Dan Cara Membacanya


Dalam sebuah box panel atau motor sering kita lihat di name platenya tulisan IP ( Indeks Proteksi). IP (Indeks Proteksi) adalah istilah yang digunakan untuk mengukur kualitas dari Box Enclosure. Indeks Proteksi terdiri dari 3 angka yang masing-masing memiliki arti tersendiri, misalnya IP500, IP445 dan sebagainya. Namun kenyataan di lapangan bahwa Indeks Proteksi yang umum digunakan hanya 2 angka saja misalnya IP45, IP55 dan sebagainya. Penggunaan nilai Indeks Proteksi pada Box Enclosure tergantung pada penggunaanya, semakin tinggi nilai IP maka semakin mahal harga Box Enclosure tersebut.

Berikut kami sajikan tabel IP (Indeks Proteksi) berikut cara membacanya :


Demikian sedikit ulasan tentang pengertian indeks proteksi dan cara membacanya. Semoga bermanfaat...


Jumat, 23 Agustus 2013

Jalur Evakuasi Pada Proyek Konstruksi


Jalur Evakuasi adalah jalur khusus yang menghubungkan semua area ke area yang aman (Titik Kumpul). Dalam sebuah proyek konstruksi, jalur evakuasi sangatlah penting untuk mengevakuasi para pekerja ke tempat aman apabila di dalam sebuah proyek terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu, rambu-rambu jalur evakuasi harus dipasang di semua area proyek.

Jalur Evakuasi di proyek gedung bertingkat terdiri dari jalur menuju Tangga Darurat, Tangga Darurat, dan jalur menuju Titik Kumpul di luar gedung.

Jumlah dan kapasitas Jalur Evakuasi menyesuaikan dengan jumlah penghuni dan ukuran gedung. Kebutuhan Jalur Evakuasi juga dipengaruhi oleh waktu rata-rata untuk mencapai lokasi yang aman (Titik Kumpul). Sebagian besar ahli keselamatan menyarankan setiap proyek gedung memiliki minimal 2 Jalur Evakuasi, lebih banyak lebih baik.

Untuk standar lebar jalur evakuasi, sebenarnya tidak ada ketentuan secara umum. Yang harus diperhatikan apakah jalur ini bisa dilalui dengan baik dan cepat, dan untuk jalur evakuasi (di luar bangunan) hendaknya bisa memuat dua kendaraan sehingga apabila saling berpapasan tidak menghalangi proses evakuasi. Dalam penentuan jalur evakuasi juga harus disepakati dimana titik kumpul yang aksesnya mudah dan luas.

Yang perlu diperhatikan dalam jalur evakuasi adalah:
  1. Jalur evakuasi harus cukup lebar, yang bisa dilewati oleh 2 kendaraan atau lebih (untuk jalur evakuasi di luar bangunan).
  2. Harus menjauh dari sumber ancaman dan efek dari ancaman.
  3. Jalur evakuasi harus baik dan mudah dilewati.
  4. dan intinya harus aman dan teratur.

Urutan evakuasi dapat dibagi ke dalam tahap-tahap berikut:
  1. Deteksi
  2. Keputusan
  3. Alarm
  4. Reaksi
  5. Perpindahan ke area perlindungan
  6. Transportasi

Demikian sedikit ulasan tentang jalur evakuasi pada proyek. Terima kasih.


Kamis, 22 Agustus 2013

Cara Menghitung Kebutuhan Semen, Pasir Dan Split Dalam Pengecoran


Dalam melakukan sebuah pengecoran, material yang dibutuhkan terdiri dari semen, pasir dan split. Pengecoran sendiri dibedakan menjadi 2, yaitu site mix dan ready mix. Pada kesempatan ini akan kami ulas tentang bagaimana caranya kita menghitung kebutuhan semen, pasir dan split untuk pengecoran yang khususnya adalah pengecoran site mix.

Bagi yang sudah pengalaman di proyek, mungkin kita telah familiar dengan istilah perbandingan material pengecoran 1 : 2 : 3. Maksudnya di sini adalah perbandingan material pengecoran yaitu 1 semen : 2 pasir : 3 split. Pada kesempatan ini kita akan menghitung kebutuhan semen, pasir dan split dengan perbandingan tersebut.

Ketentuan yang berlaku di Indonesia adalah bahwa perbandingan ini adalah perbandingan berat misal 1 kg semen : 2 kg pasir : 3 kg split. Tapi untuk pekerjaan misal membuat dak di rumah sendiri, bisa juga digunakan perbandingan volume.

Langsung saja kita misalkan perbandingan tadi sebagai ember, misal 1 ember semen : 2 ember pasir : 3 ember split, atau juga 1 m3 semen : 2 m3 pasir : 3 m3 split. Dalam praktek di lapangan, para tukang biasanya mengunakan takaran beragam, ada yang menggunakan ember, sekop, dan juga dolak.

Patokan ukuran semua alat itu adalah mengacu pada 1 zak semen
1 zak semen = 5 sekop pengki
1 zak semen = 1 dolak
1 zak semen = 0,024 m3 (adalah pendekatan dari ukuran zak semen 50kg yaitu 10 cm x 40 cm x 60 cm)

Jadi campuran betonnya bisa menjadi 5 pengki semen : 10 pengki pasir : 15 pengki split
atau 1 dolak semen : 2 dolak pasir : 3 dolak split
atau 0.024 m3 semen : 0.048 m3 pasir : 0.072 m3 split.

Sekarang saatnya kita menghitung kebutuhan semen, pasir dan split untuk pengecoran. Misal kita ingin membuat dak dengan ukuran 10 m x 6 m dengan tebal 10 cm berapa kebutuhan materialnya jika ingin dibangun dengan mutu beton 1 : 2 : 3 ?
  1. Volume beton yang akan dibangun adalah 10 x 6 x 0.1 = 6 m3
  2. Total campuran tersebut adalah 1 + 2 + 3 = 6, itu berarti 1/6 adalah semen, 2/6 adalah Pasir, dan 3/6 adalah split.
  3. Maka kebutuhan semen : 6 m3 x 1/6 = 1 m3 ; Pasir : 6 m3 x 2/6 = 2m3 ; Split : 6 m3 x 3/6 = 3 m3.

Demikian sedikit ulasan tentang cara menghitung kebutuhan semen, pasir dan split dalam pengecoran dengan mutu beton 1 : 2 : 3. Anda bisa menghitung kebutuhan semen, pasir dan split dengan mutu beton yang berbeda sesuai dengan yang anda inginkan dengan cara-cara tersebut di atas. Semoga bermanfaat, selamat mencoba menghitung di rumah anda masig-masing.....


Cara Menghitung Daya Transformator (Trafo)

Gambar 1

Transformator atau transformer atau trafo adalah komponen elektromagnet yang dapat mengubah taraf suatu tegangan AC ke taraf yang lain. Banyak jenis-jenis trafo yang terdapat di dunia kelistrikan. Pada kesempatan ini akan kami ulas bagaimana cara menghitung daya trafo.

Untuk bisa menghitung daya trafo biasanya di body trafo ada keterangan/name plate tentang tegangan dan arus trafo, atau bisa juga di gambarnya, misalkan contoh sebagai berikut :

A. Menghitung daya trafo sekunder tunggal

Gambar 2

Pada gambar 2 di atas adalah gambar sebuah trafo dengan sekunder tunggal.
Menghitung daya keluaran dari trafo ini adalah sangat mudah yaitu = 15V x 1A = 15VA atau bisa juga disebut 15 watt dengan asumsi beban yang digerakkan oleh trafo ini adalah beban resistif dengan faktor daya =1
Selanjutnya dalam uraian berikut akan diasumsikan bahwa beban yang digerakkan oleh trafo adalah resisitif, sehingga kita bisa menggunakan satuan watt.

B. Menghitung daya trafo multi sekunder

Gambar 3

Pada gambar 3 di atas bisa anda lihat trafo dengan multi sekunder, menghitung daya keluaran total dari trafo semacam ini jelas berbeda dengan trafo sekunder tunggal. Daya total dari trafo ini adalah penjumlahan daya dari masing2 sekunder.
Berikut adalah uraian cara perhitungannya :

Daya sekunder 1 = 2 x 350V x 0.1 A = 70 watt -------> (dikali 2 jika Ct atau simetris)
Daya sekunder 2 = 5V x 3A = 15 watt
Daya sekunder 3 = 6.3V x 3A = 18.9 watt
Daya sekunder 4 = 12V x 0.5A = 6 watt
------------------------------------------------------
Total daya keluaran = 109.9 watt

Dalam kasus trafo dengan multi sekunder seperti yang ada pada gambar 3 maka daya keluaran adalah penjumlahan total dari daya seluruh sekunder.

Demikian sedikit gambaran tentang cara menghitung daya transformator / trafo. Semoga bermanfaat....